Latest Event Updates

Kisah Sedih Dari Menanga Reak

Posted on

Kisah Sedih Dari Menanga Reak

(Banjir Bandang Sambalia)

oleh : MULIADI

img_20100105_171754Terlihat dari kerusakan yang ditimbulkan, seperti ruas jalan yang rusak, jembatan yang putus, rumah warga yang roboh serta ratusan hektar persawahan warga yang tertimbun tanah dan bebatuan, banjir bandang yang menjalari wilayah Sambelia  adalah banjir yang liar, teringginas, dan kasar. Terbayang betapa mengerikan suasana ketika itu. Wajah sungai nampak bertaring dengan bebatuan yang sangar, hamparan sawah yang menjadi korban terlentang tak bernyawa, wajahnya pucat bak mengalami gangguan daya kemampuan untuk menghidupi pemiliknya. Siti Aisyah perempuan anggota TSBD Belanting memperkirakan nasib petani, khususnya petani bawang akan menelan kerugian hingga ratusan juta rupiah, pasca banjir petani akan memeluk lutut, menatap hambar areal persawahannya yang ludes tersapu banjir. Aisyah menuturkan bahwa peristiwa ketika banjir pada malam sabtu itu adalah malam yang kelam, seolah satu-satunya fungsi hujan adalah menciptakan banjir dan merusak kehidupan, lingkungan dan dampak psikologis. “malam itu hujan, lampu mati, sinyal ponsel tidak ada, kami hanya mampu melambai-lambaikan tangan dengan ponsel yang nyala untuk memberi tanda kepada warga yang lain, benar-benar malam yang menyedihkan juga mengerikan, banjir itu kemana-mana, RT 3 Menanga Reak yang tak pernah kena’pun ikut tergenangi” kenangnya. Tak banyak korban jiwa namun banjir kali ini telah melumpuhkan potensi ekonomi masyarakat Sambalia.

Warga Sambalia khususnya Dusun Menanga Reak hingga empat hari empat malam hidup dalam kondisi gelap gulita  dan makan seadanya, putusnya tiga jembatan sebagai penghubung antar desa bagai putusnya mata rantai kehidupan. Warga kehabisan Gas Elpiji untuk memasak, menggunakan kayu bakarpun tidak ada karna hujan yang terus mengguyur berhari-hari, Sinyal ponsel hampa untuk meminta bantuan maupun menghubungi sanak keluarga, bantuan pangan tak terdistribusikan karna akses jalan yang rusak.

Kondisi seperti itu telah menjadikan harga bahan pokok take-off membumbung tinggi, hingga hari kelima baru bantuan makanan muncul berupa  mie instan, namun sayangnya mie yang hanya dua kotak tak mampu mengganjal perut 200 kk Dusun Menanga Reak, Aisyah berharap kepada pemerintah maupun pihak terkait lainnya bahwa bencana yang terjadi kali ini benar-benar menjadi pelajaran berharga, pemerintah lebih maksimal dalam penanganannya, jangan focus pada satu titik saja, akan tetapi harus mampu memberikan pertolongan secara menyeluruh. Peta desa ada untuk membaca titik hunian warga, begitu juga dengan rencana kontijensi yang dibuat TSBD Desa. Bencana banjir bandang bukan hanya soal luapan air keruh yang merusak, akan tetapi sangat berpotensi menyulut bencana lainnya seperti kelaparan.

Iklan

KK Dan TSBK Suryawangi Peduli Banjir Sambalia.

Posted on Updated on

KK Dan TSBK Suryawangi Peduli Banjir Sambalia.

img_20100105_152247
Pemindahan bantuan dari mobil ke kantor Desa Dara Kunci

Banjir bandang yang menimpa wilayah Sambelia beberapa hari yang lalu telah mengakibatkan kerusakan infrastruktur jalan berupa ruas jalan yang rusak serta jembatan yang putus. Tidak sedikit masyarakat yang kehilangan harta benda termasuk rumah yang roboh, tanaman komoditas persawahan dan perkebunan warga yang dihujam banjir yang datang pada sabtu dini hari.   Dengan terjadinya bencana itu, bukan hanya pemerintah saja, akan tetapi lembaga sosial kemanusiaan lainnya juga telah banyak menyalurkan bantuannya sebagai wujud kepeduliannya atas musibah yang menimpa masyarakat Sambelia, Lombok Timur. Salah satunya adalah Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK) dan Kelompok Konstituen (KK) Kelurahan Suryawangi Kecamatan Labuhan Haji turut terketuk hatinya untuk memberikan bantuan kepada korban banjir berupa mie instan, beras dan pakaian. Bertempat di Kantor Desa Dara Kunci, rombongan dari Kelurahan Suryawangi itu disambut oleh Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Desa Belanting untuk menerima bantuannya. Muliadi selaku Ketua rombongan yang juga Ketua LPMK Suryawangi dalam penyaluran bantuan tersebut pada minggu (19/2) mengemukakan bahwa bantuan yang disalurkan merupakan bentuk kepedualian warga masyarakat Kelurahan Suryawangi atas musibah yang menimpa warga Kecamatan Sambalia, “bantuan ini merupakan kerjasama TSBK dan Kelompok Konstituen yang ada di Kelurahan Suryawangi sebagai bentuk kepedualian atas bencana yang menimpa saudara-saudara kita yang ada di wilayah kecamatan sambalia” ujarnya.

img_20100105_155737-copy
Muliadi bersama M. Alwi Jupri (Ketua TSBD Belanting) usai penyerahan bantuan

Dana yang terhimpun, sambung Adhi sapaan akrabnya, selain murni dari kantong pribadi Kelompok Konstituen dan TSBK, juga berasal dari masyarakat yang memiliki kepedualian terhadap warga Sambalia yang terkena musibah. “masyarakat suryawangi turut membantu dalam penghimpunan dana, kunjungan kami ke Sambalia murni misi kemanusiaan” bebernya.

Pada kesempatan tersebut bantuan itu langsung diterima oleh ketua TSBD Belanting M Alwi Jupri. Pada kesempatan yang sama Jupri menyampaikan terima kasih kepada TSBK dan KK Suryawangi, “terima kasih kami sampaikan kepada rekan-rekan suryawangi atas kepduliannya” ucapnya.

Perempuan Tangguh Bencana

Posted on Updated on

relawan-perempuanSebenarnya dimanakah simbol kekuatan manusia itu berada, pada raga atau dalam pikirannya ?, dalam pandangan banyak orang perempuan memang selalu simbol kelemahan.  Padahal  tak sedikit perempuan telah menunjukkan kekuatannya untuk bisa melakukan seperti apa yang diperankan laki-laki. Dari enampuluh peserta Pelatihan Relawan Tangguh Bencana, duapuluh diantaranya adalah perempuan.  Dalam konteks kebencananaan, perempuan diletakkan menjadi salah satu kelompok rentan setelah anak-anak, orang tua jompo dan difabel, artinya posisi perempuan tak bergeser menjadi kelompok yang lemah, padahal jika diberikan posisi dan porsi sebagaimana laki-laki, tentu perempuan pun akan perlahan-lahan mengenal dengan baik potensi keperempuanannya. Dalam pelatihan yang di selenggarakan oleh BPBD Lombok Timur beberapa minggu yang lalu, selain pengetahuan teori juga dibekali dengan pelatihan praktik, yang salah satunya adalah bagaimana mengevakuasi korban yang luka ringan, luka berat, dan evakuasi korban meninggal, peserta perempuan pun dengan sigap dan cekatan mampu secara atraktif mengevakuasi korban bencana dalam pelatihan tersebut, demonstrasi yang mereka tunjukkan seakan-akan mereka berupaya merobek selimut prasangka yang melekat pada diri mereka.

Kasi Kesiapsiagaan BPBD Lombok Timur, Ilham, mengatakan bahwa setelah pelatihan diharapkan para relawan mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut. lebih jauh Ilham mengemukakan bahwa adanya keterlibatan perempuan sebagai relawan menjadi bagian penting dari kegiatan-kegiatan kebencanaan, karena kehadiran perempuan sangat dibutuhkan terutama dalam hal sosialisasi kepada masyarakat terutama warga perempuan, pengetahuan perempuan terhadap kebencanaan sangat penting, karena seperti diketahui pada umumnya bahwa perempuan lebih sering dirumah ketimbang laki-laki, sehingga ketika terjadi bencana, perempuan yang terdidik tentu sangat mampu memberikan upaya penyelamatan dan evakuasi dini, misalnya terhadap kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua jompo. “perempuan yang tergabung dalam relawan tangguh bencana desa merupakan leader bagi perempuan yang lain dan anak-anak mereka sehingga mampu mengurangi kerentanan perempuan, orang tua jompo dan anak-anak” jelasnya. Ilham menambahkan, bahwa tidak hanya sekarang namun kedepan BPBD Kabupaten Lombok Timur akan terus berupaya memberikan edukasi dalam rangka peningkatan kapasitas perempuan dalam hal kebencanaan, karena perempuanpun memiliki potensi sebagaimana laki-laki.

 

Wilayah Suryawangi Diterpa Tsunami

Posted on Updated on

Wilayah Suryawangi Diterpa Tsunami

 

untitledBMKG provinsi Nusa Tenggara Barat menginformasikan kepada BPBD Kabupaten Lombok Timur bahwa kejadian Gempa yang berkekuatan 7,5 SR pada kamis 24 Novewmber 2016 pukul 08 : 00 Wita yang berpusat di kecamatan Jerowaru dengan kedalaman 10 km dibawah permukaan laut dengan titik Epicentrum pada 116° bujur timur dan 8° lintang selatan. Selang beberapa menit kemudian BMKG Ampenan mengeluarkan pernyataan dan menginformasikan kepada BPBD Nusa Tenggara Barat dan BPBD Lombok Timur bahwa gempa yang terjadi beberapa menit yang lalu berpotensi Tsunami. Atas informasi tersebut BPBD Lombok Timur meneruskan informasi kepada Lurah dan Komandan Relawan TSBK (Tim Siaga Bencana Kelurahan) Suryawangi tentang peringatan dini Tsunami.

tsunami-7Tak lama kemudian Tim Relawan yang bertugas memantau tanda-tanda alam menginformasikan bahwa air laut surut hingga ratusan kilometer. Sontak beberapa tim relawan lainnya bergerak menginformasikan dan mengarahkan masyarakat untuk segera berkumpul dititik aman yang sudah ditentukan. Suasanapun menjadi gaduh, riuh dan terjadi kepanikan yang luar biasa. Tim SPD (Sistem Peringatan Dini) dan Asessment mengarahkan masyarakat yang lari tunggang langgang untuk segera menuju ke tempat evakuasi sementara. Pekikan histeris warga bercampur aduk dengan suara Megaphon Relawan, raungan suara mesin kendaraan, tangisan anak-anak menukik gendrang telinga, teriakan para orang tua memanggil anak-anaknya bagaikan terompet sangkala yang menandai bahwa bumi akan segera luluh-lantah.tsunami-6

Relawan TSBK dan Warga mulai melakukan evakuasi, dalam situasi tersebut beberapa warga mengalami luka-luka akibat berlarian dan beberapa diantaranya patah tulang akibat bertabrakan dengan warga lainnya, nampakpula ada yang robek dibagian kepala serta pendarahan yang cukup hebat, warna merah menjadi warna dominan disekujur tubuh para pengungsi, siswa-siswi Sekolah MTs dan Sekolah Dasar yang sedang berada di ruang kelas berhamburan keluar kocar kacir bak anak ayam kehilangan induk, tak sedikit mengalami patah tulang akibat terinjak-injak. Sepuluh menit kemudian terlihat gelombang air laut menggunung hingga 15 meter dengan kecepatan ±320 Km/Jam, langit memekat, wajah bumi tiba-tiba mengerikan, gelombang maut itu dengan teringinas menggilas seluruh isi permukaan wilayah suryawangi. Tsunami yang menghantam wilayah kelurahantsunami-4 suryawangi lebih berbahaya karena disertai daya perusak berupa air laut yang membawa material berupa batu, kayu serta reruntuhan bangunan lainnya. Warga yang berada di pinggir laut, di kebun dan di sawah yang tidak mendengar peringat Tsunami banyak menjadi korban. Di shelter-shelter kian membising oleh suara tangis, ratapan, suara doa, pekikan kesakitan  orang tua dan anak-anak.

Seiring dengan makin menumpuknya warga pengungsi di Shelter-shelter yang terbangun, bantuanpun mulai mengalir dari berbagai pihak dan instansi seperti dari BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas STT, PMI, Pol-PP,Kepolisian NGO dan lain-lain, bentuk bantuanpun beragam ada yang berupa tenaga, Sarana-prasarana maupun bahan makanan lainnya. Data terbaru yang dirilis Posko Utama bahwa 8 orang sudah ditemukan tewas, 10 orang luka berat dan 12 orang luka ringan, dan masih banyak lagi warga yang belum diketemukan.tsunami-9

Demikianlah Sekenario dan Alur proses Simulasi Tanggap Darurat Bencana Tsunami yang di selenggarakan oleh Tim TSBK Suryawangi yang melibatkan pihak BPBD, unsur Dinas Kesehatan, Unsur Kepolisian Sektor, Koramil Labuhan Haji,  PMI, TAGANA  dan unsur-unsur lainnya, pada kamis (24/11). “Simulasi dengan skenario seolah-olah sedang terjadi bencana alam gempa bumi berkekuatan 7,5 SR yang berdampak Tsunami di Wilayah Kelurahan Suryawangi Kecamatan Labuhan Haji,”ujar Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana Muliadi.tsunami-3

Ditempat yang sama, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Lombok Timur,  Mirayang saat pembukaan simulasi tersebut, mengatakan, bahwa tujuan Simulasi ini selain dari rangkaian kegiatan Desa Tangguh Bencana (DESTANA) juga merupakan bagian dari edukasi masyarakat secara umum khususnya masyarakat Kelurahan suryawangi agar memiliki kesiap-siagaan dalam menghadapi bencana. “kegiatan ini dimaksudkan untuk melatih kepekaan dan kesiap siagaan masyarakat Khususnya Relawan TSBK dalam menanggulangi gempa dan tsunami, juga kegiatan ini untuk memelihara, memacu serta meningkatkan kerja sama dan keterpaduan antar unsur potensi masyarakat dengan aparat dalam penanganan dan penanggulangan bencana” papar Mirayang.

Usai Simulasi dilaksanakan Anggota TSBK Suryawangi, tsunami-11
Fasilitator, Pihak BPBD Lotim dan semua unsur yang terlibat duduk bersama melakukan refleksi kegiatan simulasi, selain mendapatkan apresiasi juga mendapat beberapa kritik dan saran.  Sekban BPBD Lotim Mirayang mengkritisi Alur atau rangkaian koordinasi yang masih kaku dari awal hingga akhir kegiatan dan perlu diperbaiki, kemudian TSBK disarankan untuk terus melakukan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat,  Sedangkan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Supandi, mengkoreksi soal lokasi evakuasi akhir yang sempit sehingga para pengungsi dan mobil-mobil tak berleluasa bergerak. Selain itu juga terdapat beberapa catatan-catatan dari masing-masing bidang dan instansi, ada yang menyoroti soal Ekpresi para pelaku, personil yang masih kurang, komunikasi atau dialog yang kurang jelas dari pesawat HT yang dipergunakan, Soundsistem yang kurang memadai.

Menanggapai berbagai Fujian, kritik dan saran, ketua PRB Muliadi, mengucapkan banyak terima kasih atas  Fujian, kritik dan saran yang diberikan oleh semua pihak, “Fujian tentu takkan membuat kami lupa diri begitu juga atas kritik dan saran akan kami jadikan cambuk untuk perbaikan kedepan” ungkapnya.

tsunami-8

tsunami-5

tsunami-12

dsc03874

PERDAGANGAN PEREMPUAN DI LOMBOK TIMUR

Posted on

PERDAGANGAN PEREMPUAN DI LOMBOK TIMUR

Oleh :

Lalu. Handani (Direktur Yayasan Insan Hayati)

Demi m2015-05-12 11.38.15endambakan kehidupan yang lebih layak, seorang perempuan rela meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pekerjaan ke luar negeri. Dalam tataran normal, mencari kerja lintas
negara merupakan penomena gelobal, selain merupakan hak setiap orang, dengan berbagai alasan (kesulitan lapangan kerja, tingkat penbdapatan, kenyamanan kerja). Tampa melihat jenis kelamin dan keahlian, ada banyak negara maju mencari kerja di negara miskin dan berkembang, dan sebaliknya. Terlebih lagi Indonesia  yang sedang dilanda krisis multi dimensi, jutaan rakyat Indonesia mencari kerja ke luar negeri dengan berbagai cara.

Tidak dipungkiri bahwa ada cukup banyak orang sukses bekerja ke luar negeri, sehingga banyak kalangan menamakan mereka “pahlawan devisa”. Tetapi sebaliknya banyak pula mengalami kegagalan terutama perempuan seperti dirampok, diperas, ditipu, dieksploitasi, diperkosa, dilacurkan, dibunuh  dan tidak sedikit yang diprjual-belikan seperti hewan.

Lemahnya posisi tawar TKW  dan anggota keluarganya d hadapan semua stakeholder pelaku penempatan dan perlindungan TKW sehingga menyebabkan mereka mudah dieksploitasi. Hal ini juga diperparah dengan rendahnya pendidikan dari para calon TKW yang rata-rata hanya lulusan Sekolah Dasar.  Akibatnya jika mereka terkena kasus, mereka tidak memahami resiko yang akan ditanggungnya; tidak tahu bagaimana harus memperjuangkan hak mereka yang terlangggar.

Perempuan dewasa dan anak (dibawah umur 18 tahun) merupakan ‘objek’ yang rawan terhadap kekerasan, pelecehan seksual, tertraffick dan berbagai perlakuan tidak manusiwi lainnya. Akar persoalannya menjadi gampang difahami ketika masih sebagian besar orang memandang bahwa perempuan merupakan warga kelas dua, lemah dan termarjinal dari berbagai akses dan berbagai bentuk “ketidak adilan gender” yang merugikan perempuan.

Gambaran  persoalan TKW di atas, sangat banyak ditemukan di kabupaten  Lombok Timur khususnya dan NTB umumnya. Hasil assesment yang dilakukan Yayasan Insan Hayati, diketahui bahwa resiko penipuan bahkan bisa terjadi ketika mereka baru “memasang niat” menjadi TKW. Betapa tidak, mereka sulit menghindar dari bujuk rayu calo lokal  (yang tidak jarang adalah keluarga calon TKW sendiri)

Jumlah BMI (khususnya TKW) di Lombok Timur yang bermigrasi dari tahun ke tahun terus meningkat. Sebagai gambaran hingga akhir tahun  2014 jumlah Buruh Migran asal Lombok Timur 23.417 TKI 15.992 orang dan TKW sebanyak  7.425 orang. (Sumber: Data TKI/TKW  Disnakertran Kab. Lombok Timur-NTB 2014). Jumlah ini akan semakin membesar lagi jika dihitung pula berapa TKW yang berangkat secara undocumented.

Meski secara kwantitatif jumlah TKW itu terus meningkat, namun gambaran buram kehidupan BMI khususnya TKW setiap hari terus menghawatirkan. Dari hasil assessment kami (Oktober 2014) di Lombok Timur yang menjadi penyebab potensi  tinggi terjadinya trafficking terhadap TKW antara lain:

™  Sewaktu Calon TKW Masih di Desa Asal :

  • Hampir 100 % orang yang berangkat ke Luar Negeri  tidak memahami administrasi dan prosedur.
  • Kisaran umur calon TKW potensial antara 14 – 30 tahun. Sedangkan banyak ditemukan kisaran umur 13 – 16 tahun. Ini artinya ada terkait dengan issue “PEKERJA ANAK” dan rendahnya pendidikan.
  • Pendidikan calon TKW rendah. Sekitar 80 % berpendidikan SD-SMP.
  • Pengetahuan tentang  Kesehatan Reproduksi rendah.
  • Ada tendensi TKW dieksploitasi oleh orang tua / suami.
  • Biaya yang dikeluarkan cukup besar.
  • Kepercayaan terhadap sponsor./calo lokal sangat kuat.
  • Calo lokal banyak berkeliaran di Desa.
  • Pelecehan seksual

™  Sewaktu di Penampungan (Surabaya/ Jakarta).

  • Diperlakukan tidak manusiawi.
  • Menunggu waktu keberangkatan terlalu lama.
  • Tindakan-tindakan calo/Perusahaan Pengerah sering mengarah ke “perdagangan perempuan”.
  • Pelecehan seksual.
  • Tidak boleh melakukan komunikasi secara leluasa baik dengan lingkungan sekitar maupun dengan keluarga di rumah selama di penampungan.
  • Kontrak kerja tidak dipahami.
  • Pemalsuan identitas. Berdasarkan KTP sementara dari desa (identitas biasanya di palsu),  kartu identitas (KTP, akte kelahiran) dibuat ketika dipenampungan, dan terjadi pemalsuan identitas : alamat, umur dikatrol sehingga memenuhi syarat, status gadis  diganti  dengan status janda, status kawin (bersuami) juga diganti dengan status janda  (karena Saudi Arabia dan Taiwan lebih suka TKW berstatus janda). 

      Pengalaman selama ini juga telah terjadi praktek manipulasi dan  pemalsuan oleh pemerintah Desa, dalam bentuk pemalsuan identitas (seperti usia anak 14 tahun dibuat menjadi 18 tahun; status perkawinan yang sebenarnya bersuami menjadi janda, pemalsuan alamat dll). Hal ini, menurut hemat kami sebagian besar karena pemerintah desa juga tidak memahami dampak buruk yang diakibatkan oleh perbuatannya tersebut baik secara sosial, HAM maupun hukum. Praktek-praktek curang pemerintah desa tersebut bahkan dilakukan dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat, keluarga TKW, Calo dan PJTKI. Hal tersebut menjadi penting untuk dilakukan pencegahan agar tidak terjadi trafficking anak-anak.

Dari temuan assessment juga banyak kasus yang dialami oleh mantan TKW pada saat bekerja di luar negeri. Diantaranya; Bekerja lebih dari 12 jam sehari, Gaji tidak dibayar, pemerkosaan, pemerasan dan dipaksa aborsi bagi yang hamil. (Assesment dilakukan pada bulan Oktober 2014 dengan teknik indepth intevew (terstruktur dan bebas), observasi dan dialog dengan masyarakat asal TKW)

Gambaran mengenaskan itu tidak berhenti disitu saja, saat mereka berada di rumahpun mereka juga harus menghadapi masalah yang cukup rumit, seperti Shock culture, penghasilan yang disalah gunakan oleh keluarga seperti untuk beli barang konsumtif, bahkan dipakai suami untuk poya-poya dengan perempuan lain atau kawin lagi. Hal semacam ini jelas mengancam keutuhan keluarga TKW yang akibat lebih lanjutnya mengancam juga terjaminnnya hak-hak anak mereka.

Potret buram yang dialami oleh TKW tersebut terjadi karena hingga saat ini masih belum ada upaya pencegahan yang cukup komprehensip bagi mereka. Hingga saat ini, para  TKW sendiri belum memiliki posisi tawar dan belum juga secara khusus membentuk persatuan dalam satu wadah “Kader Lokal” yang berbasis TKW itu sendiri. Salah satu akibatnya jika TKW terkena kasus, banyak orang yeng lebih menyalahkan mereka daripada membantu mencarikan  solusinya.

Menyikapi berbagai persoalan yang melilit TKW, maka perlu ada lembaga atau konsorsium lokal yang concern memerangi berbagai perdagangan perempuan dan anak di Lombok Timur, mengajak semua pihak untuk pro aktif mencegahnya. Masih belum terlambat.

Sumber : jikti.bakti.or.id

Catatan Sore dari Kegiatan Mentoring dan TA

Posted on Updated on

 Persoalan Para Single Parents Mengapung Diwilayah Suryawangi

Oleh : Adhi

2016-03-12 16.06.59 ySebagai wadah gerakan advokasi warga kelompok konstituen berfungsi sebagai tempat pengaduan warga, tempat diskusi,  pusat pembelajaran , pusat informasi warga serta diharapakan sebagai lumbung data penyeimbang bagi dewan perwakilan dalam kerja-kerja jaring aspirasi. Kelompok konstituen kedepannya  akan kian dihadapkan  pada kompleksitas persoalan yang masih berserakan dilingkungannya. Dan untuk menghadapi persoalan-persoalan tersebut kelompok konstituen juga sangat membutuhkan suatu keterampilan pengorganisasian guna mengurai persoalan-persoalan yang dihadapi.

Keterampilan pengorganisasian tersebut secara spesifik diperlukan oleh anggota-anggota “champion” sebagai actor penggerak dalam melakukan perubahan ditubuh kelompok. Selain itu warga masyarakat khususnya perempuan miskin sebagai sasaran  program memerlukan keberdayaan dalam mengatasi persoalannya terutama yang berkaitan dengan 5 tema MAMPU.  Untuk itu diperlukan Mentoring dan TA tentang penguatan kapasitas champion dan perempuan miskin untuk memperkuat pengorganisasian di masyarakat sebagai upaya kongkrit dalam memperjuangkan persoalan yang dihadapi secara berkelajutan.

Di Kelurahan Suryawangi Kelompok Konstituen “Surya Bersuara” menggelar kegiatan Mentoring dan TA pada sabtu 13/3/2016. Dari 5 perempuan miskin yang diundang menjadi peserta pada diskusi tersebut semuanya adalah para single parent atau janda. Berbeda dari kegiatan sebelumnya kali ini anggota KK yang telah ditempa pada kegiatan ToF Pengorganisasian oleh Sub Office BaKTI MAMPU NTB tampil sebagai fasilitator FGD untuk membongkar persoalan-persoalan yang masih menendap diwilayah lingkungan. Setelah ketua KK “Surya Bersuara” membuka acara tersebut, Nafsari salah satu anggota KK Divisi Peningkatan Kapasitas bersama Ketua KK memfasilitasi serta memandu acara diskusi pada sore hari itu. Nafsari menjelaskan bahwa tujuan diskusi tersebut adalah untuk mengidentifikasi masalah utama dan berdampak luas dalam masyarakat serta akan merumuskan langkah-langkah kerja atau rencana tindak lanjut. “untuk itu diharapkan kepada ibu-ibu, bapak-bapak dapat mengemukakan pendapat dan menyampaikan persoalan yang ada dimasyarakat atau yang sedang dihadapi” pinta Nafsari kepada peserta dengan bahasa khas Suryawangi (bahasa Lengkokdudu).

2016-03-12 15.00.27 yDari hasil eksplorasi dan identifikasi masalah beberapa persoalan kembali mengapung diwilayah Suryawangi seperti BPJS PBI yang tidak tepat sasaran kembali mengemuka, masih banyaknya warga masyarakat yang belum memiliki Buku Nikah, Program Keluarga Harapan (PKH) yang ditengarai tidak tepat sasaran dan diduga adanya fungli oleh pendamping/fasilitator peserta PKH menjadi persoalan yang diminta peserta FGD untuk ditangani dengan serius, sedangkan banyaknya warga masyarakat miskin terlilit hutang pada rentenir yang berkedok Koperasi dianggap sebagai masalah yang akan berdampak luas, alasannya semakin hari para karyawan atau kolektor yang mengatas namakan dirinya dari Koprasi Simpan Pinjam kian ramai bergentayangan menawarkan pinjaman modal pada warga masyarakat yang terhimpit persoalan ekonomi. Inak Ma’rah (47) salah satu peserta mengemukakan bahwa bukan dirinya saja, namun banyak tetangganya yang terjebak hutang pada Koprasi yang mereka sebut sebagai “Bank Rontok”. Lanjut  Inak Ma’rah, bukan saja bunga yang tinggi namun seringkali petugas koperasi tersebut juga sangat tidak manusiawi perlakuannya ketika para nasabahnya tidak bisa membayar atau menunggak angsuran setiap harinya, para petugas tak jarang melampiaskan kemarahannya dengan menendang pintu rumah nasabah yang menunggak padahal tunggakkanya kadang baru sehari atau dua hari, dan bukan itu saja, yang membayar angsuran kurang pun seringkli mendapat respon yang menyakitkan dari para deftkolektor tersebut. “saya kan minjam 500.000, yang saya terima itu 450.000 dan setorannya tiap hari 20.000per hari  selama 30 hari, kalau saya nunggak 2 atau 3 hari terus saat dia datang kerumah lalu saya telat keluar kadang-kadang pintu rumah ditendang bahkan pernah saya nonggak 2 hari dan ketika saya nyetor kurang, malah uang setoran itu disobek” beber Inak Ma’rah janda paruh baya itu.

Lebih jauh Inak Ma’rah menuturkan bahwa mestinya orang-orang seperti dirinya menjadi perhatian semua pihak, terjebaknya dalam kubangan hutang pada rentenir dikarenakan keterpaksaan karena tidak ada lagi lembaga keuangan atau kepedulian pihak penyandang bantuan dana lainnya yang bisa memberikan pinjaman untuk modal usaha dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Kesulitan ekonomi keluarga menjadi jalan berbatu penuh lubang dan tikungan yang menanjak yang harus dilaluinya sebagai seorang single parents. Untuk itu ia berharap bahwa kondisi ekonomi dapat menjadi prioritas utama setiap program pemerintah.

Berbeda dengan Muhdar salah seorang warga lingkungan Loang Sawak yang menyoroti maslah Program Keluarga Harapan (PKH) Kementerian Sosial, ia membeberkan tentang ketidak jelasan penerima bantuan PKH, beberapa peserta PKH didapati memasukan anak orang lain atau meminjam anak untuk menjadi anggota keluarga agar dapat bantuan PKH. Dan dari pengaduan warga kepadanya, bahwa pendamping atau fasilitator PKH juga telah melakukan pemotongan dana bantuan yang tidak jelas arah dan peruntukannya yang ia duga untuk kepentingan peribadi “bukan saja data peserta PKH yang tidak jelas, akan tetapi pendamping program itu juga telah melakukan pemotongan bantuan tersebut” papar Muhdar.

Dari raut wajah para perempuan “kurang mampu” itu  terlihat jelas kesusahan telah menderanya dalam jangka waktu yang tak terhitung lamanya. Tak bisa dibayangkan bagaimana para perempuan Single parents itu menanggung beban hidup dan setumpuk persoalan yang melilit. Namun ada titik harapan melintas diwajah mereka ketika kelompok konstituen  dan Triyati selaku Co Program MAMPU Lotim berkomitmen akan mendampingi dan berupaya mengurai persolan yang selama ini menyelimuti mereka. “kita punya anggota dewan, kita punya perwakilan, nanti kita akan coba koordinasi, kita hubungi mereka agar mereka sebisa mungkin respon terhadap persoalan ini” janji Triyati.

KK Suryawangi Advokasi Peserta PKH

Posted on

KK Suryawangi Advokasi Peserta PKH

 12660340_1082298675134286_456428100_n

Program Keluarga Harapan (PKH) adalah program pemberian uang tunai kepada Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) berdasarkan persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan dengan melaksanakan kewajibannya. Adapun tujuan PKH diantaranya merubah perilaku keluarga sangat miskin untuk memberikan perhatian yang besar kepada pendidikan dan kesehatan anaknya, juga memberikan income kepada rumah tangga miskin melalui pengurangan beban pengeluaran rumah tangga sangat miskin serta meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan dan kapasitas pendapatan anak dimasa depan. Lalu bagaimana jika dana yang dihajatkan untuk membantu orangmiskin ini dipangkas oleh seorang yang diberi kewajiban untuk membantu, menyalurkan, mendampingi dan membina peserta PKH yakni Pendamping/fasilitator, tentu mendengar hal ini setiap orang akan meradang. Bantuan yang diterima per triwulan oleh kelompok keluarga sangat miskin ini sangat berarti demi kelangsungan hidup mereka dan keluarga. Tanpa bantuan ini tentu derita mereka semakin terakumulasi seiring dengan meroketnya harga sembako, biaya kesehatan dan biaya pendidikan bagi anak-anak yang berbaris dibelakang orangtuannya menanti masadepan mereka.

Dikelurahan Suryawangi isu pemotongan bantuan bagi peserta PKH telah menggelinding dan telah menjadi rahasia umum terutama bagi peserta PKH, namun mereka tak sedikitpun mau mengadukan hal tersebut kepada para pemangku kebijakan setidaknya kepada Kepling masing-masing. Menyikapi hal tersebut Kelompok Konstituen (KK) Suryawangi melakukan penulusaran/investigasi ke beberapa Keluarga Sangat Miskin penerima bantuan PKH.

Setelah menghimpun keterangan dan informasi penting dari masyarakat khususnya peserta PKH, KK Suryawangi mengajak perwakilan masyarakat untuk mengadukan hal tersebut ke dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Timur.

Ditemui diruang kerjanya pada, Rabu (10/2) Kepala Bidang Bina Organisasi Dan Bimbingan Sosial (BOBS) Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Timur Moh. Sabrun mengancam akan merekomendasikan pemecatan kepada oknum Pendamping Program Keluarga Harapan(PKH) Kecamatan Labuhan Haji jika terbukti melakukan pemotongan bantuan terhadap Keluarga Sangat Miskin (KSM) pesrta PKH. Dihadapan Kepala Lingkungan (Kepling) Timba Lindur dan Kelompok Konstituen Suryawangi  yang  mengadukan adanya pemotongan bantuan keluarga miskin oleh oknum Pendamping PKH, lebih jauh Sabrun mengemukakan bahwa ia bersyukur dan sangat berterima kasih kepada perwakilan masyarakat yang telah mengadukan hal tersebut, karena menurutnya dengan adanya pengaduan-pengaduan masyarakat ia bersama jajarannya dapat melakukan kontrol dan evaluasi sehingga program yang dihajatkan pemerintah untuk masyarakat miskin dapat dipastikan tepat sasaran. “beri kami waktu untuk melakukan pendalaman, evaluasi, kalau memang terbukti kita bisa rekomendasi pecat pendamping tersebut” ancamnya.

Sementara itu, Kepling Timba Lindur Zainuddin (45), mengatakan bahwa isu persoalan pemotongan bantuan PKH tersebut telah lama menggelinding ditengah-tengah masyarakat, namun masyarakat khususnya peserta PKH tidak berani melaporkan hal tersebut kepadanya karena takut tidak akan diberikan lagi bantuan oleh pendamping bersangkutan.  “ini sudah lama sebenarnya terjadi, tapi yang namanya masyarakat awam mereka tidak berani bicara dengan alasan takut tidak lagi diberikan bantuan lagi” ungkap Zainudin. Hal senada juga disampaikan oleh Muhdar (30, bahwa peserta PKH yang ada dilingkungannya pernah berkeluh kesah kepadanya terkait adanya pemotongan bantuan tunai PKH, namun ketika ia melakukan Crosscek kemasyarakat ternyata para peserta PKH tak banyak yang berani mengunkap persoalannya dengan alasan takut.

Ditempat yang sama, Triyati selaku Program Asisten (PA) MAMPU NTB yang memfasilitasi pertemuan tersebut, kepada Kabid BOBS ia mengemukakan bahwa dari 15 Desa/Kelurahan yang ia dampingi ternyata persoalan PKH banyak yang mencuat kepermukaan terutama dari para Kepala Dusun atau Kepala Lingkungan bersangkutan disetiap ada pertemuan.  Karena Kadus dan Kepling telah banyak menerima pengaduan dari masyarakat, sementar para pendamping PKH terkadang tidak pernah ada koordinasi dengan Kadus atau Kepling diwilayah masing-masing . “kadus atau kepling merasa terlangkahi karena tidak pernah ada koordinasi“jelas TRiyati. Sehingga, sambung Mbak Tris begitu ia disapa, sangat menyayangkan pola hubungan antara Kadus atau Kepling dengan Pendamping/fasilitor PKH yang tidak koordinatif. Untuk itu ia meminta kepada Kabid BOBS Sabrun agar lebih serius menangani persoalan ini. “jangan kadus atau kepling hanya diposisikan sebagai tukang stempel saja padahal mereka tidak tau persoalan” tegas Triyati.

Untuk itu, menanggapi pengaduan dan berbagai persoalan-persoalan terkait bantuan tunai PKH, Kabid BOBS berjanji akan segera melakukang langkah-langkah penyelesaian “ini sudah saya catat, beri saya kesempatan, segera akan kami lakukan evaluasi dengan jajaran saya” janjinya. (adi)